Kelebihan Antara Sesama Manusia Terletak Pada Himmah Mereka
       
Allah Ta’ala berfirman,
        “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda” (Q.S.Al Lail Ayat 4)
        Himmah adalah karunia dari Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung. Allahlah yang meluaskan dan yang menyempitkan karunia bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Adalah  hikmah kebijaksanaan Allah membeda-bedakan makhluk-Nya dari segi kekuatan amal maupun kekuatan ilmu mereka.
        Di mata orang-orang kecil segala sesuatu yang kecil menjadi besar dan di mata orang-orang yang besar segala persoalan besar menjadi kecil.
        Pada suatu hari abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, dan Abdul Malik Bin Marwan berkumpul di halaman Ka’bah. Mush’ab berkata kepada teman-temannya tersebut,”berangan-angalah kalian.” Mereka menjawab,”Kamu dulu yang mulai.”
        Mush’ab berkata,”Aku berangan-angan ingin menguasai Iraq, serta menikahi Sukainah binti Al Husain dan A’isyah binti Thalhah bin Ubaidillah.”Kenyataannya Mush’ab berhasil mendapatkan apa yang menjadi angan-angannnya tersebut. Ia memberi mas kawin kepada masing-masing istrinya sebesar lima ratus ribu dirham, dan ketika memboyong mereka ia juga mengeluarkan uang sebanyak itu.
        Urwah bin Zubair berangan-angan bisa menguasai ilmu fiqih serta hadits. Kenyataannya, apa yang menjadi angan-angannya tercapai.
        Abdul Malik bin Marwan berangan-angan menjadi khlaifah. Kenyataanya, apa yang menjadi angan-angannya juga terkabul.
        Sementara Abdullah bin Umar berangan-angan ingin masuk surga.
        Bukti bahwa himmah manusia itu berbeda-beda ialah, ada sementara orang yang tetap segar dan bersemangat begadang semalaman untuk mendengarkan obrolan-obrolan kosong, tetapi mereka mengantuk ketika mendengar ayat-ayat Al qur’an. Ada sementara orang yang merasa puas  dengan hafal beberapa ayat Al Qur’an dan tidak pernah ingin hafal seluruhnya. Ada sementara orang yang mengetahui fiqih hanya sedikit saja. Ada sementara orang yang merasa puas hanya dengan melakukan shalat sunnat dua rakaat di malam hari. Dan ada juga sementara orang yang hanya punya keninginan mencari hal-hal tinggi, tanpa mau berusaha mewujudkan keinginannya tersebut. Orang seperti ini telah tertipu oleh angan-angannya yang palsu.
        Cita-cita itu tidak dapat diraih hanya dengan angan-angan
        Tetrapi harus dengan menundukkan dunia
        Suatu kaum tidak akan dapata mencapai tujuan
        Kalau langkah kaki mereka tak pernah terayunkan.
        Jika mereka punya himmah yang tinggi, tentu  mereka akan berusaha untuk mendapatkan semua keutamaan, menutup segala kekurangan, dan memanfaatkan smua potensinya, seperti kata seorang penyair.
        Setiap tubuh yang sangat kurus adalah bencana
        Dan bencana tubuhku berasal dari hasratku yang lemah
        Al Mutanabbi mengatakan,
        Jika jiwa besar tubuh akan kepayahan
        Menuruti keinginan-keinginannya
        Ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahullah diangkat sebagai khalifah, ia memberikan dua opsi kepada  istrinya Fatimah, untuk memilih; tetap mendampinginya dengan resiko tidak memiliki banyak waktu senggang untuk berkumpul bersama, atau ia dipulangkan kepada keluarganya. Disuruh memilih  seperti itu Fatimah menangis, dan wanita-wanita tetangganya pun ikut menangis. Sehingga timbul kegaduhan. Akhirnya ia memutuskan memilih untuk tetap bersama suaminya, apa pun yang terjadi.
        Seorang berkata kepada sang khalifah Umar bin AbdulAziz,” Luangkan waktu anda buat kami, wahai Amirul Mukminin.” Sebagai jawabannya sang khalifah membaca syair,
        Telah datang kesibukan
        Aku telah menjauhi jalan senggang   
        Waktu luang telah hilang
        Sampai hari kiamat datang
        Imam Ibnu Daqiq al’id rahimahullah mengatakan
        Mau tak mau tubuh harus bersusah payah demi berkhidmat
        Pada tugas dan kewajiban
        Bagi hati, hasrat yang tinggi merupakan derita
Dan usia pun harus dihabiskan dalam kesengsaraan
Jika kesenangan telah mati
Yang muncul justru kasih sayang    
dikutip dari Buku meraih cita-cita dengan Semangat Membara karya Muhammad Ahmad Ismail Al Muqaddam
Previous
This is the oldest page
Thanks for your comment