Apabila salah seorang mereka punya hasrat untuk naik pada derajat keluhuran, syetan segera menutup hatinya dan berbisik,"malam masih panjang, tidurlah lagi." Apabila ia ingin berusaha memperbaiki kesalahan dan membangun niat baik, pasukan iblis segera menyerbunya dan nafsu jahatnya bertanya,"Mana yang lebih besar? Kamu atau kenyataan?"
Seorang penyair berkata," janganlah kamu cari kemuliaan terima saja keadaan ini,
karena untuk sampai pada kemuliaan itu
harus lewat tangga yang sulit dipanjat.
Seorang penyair lain berkata,"
tinggalkan hal-hal yang mulia itu
jangan pergi mencarinya
duduklah saja, karena kamu ini adalah orang yang tinggal makan dan tinggal mengenakan pakaian.
Akibatnya, ia menjadi orang yang hanya bisa berpangku tangan dan bermain-main dengan segala nafsu kesenangannya. Ia sama sekali tidak berani melakukan revolusi terhadap keadaannya, atau melepaskan diri dari belenggu cita-citanya yang rendah.
Ketika jiwanya ada keinginan untuk mencari hal-hal yang mulia, menghadapi berbagai gelombang kesulitan, dan melepaskan diri dari kelemahan serta kemalasan, ia segera menhardiknya seraya berkata, "
biarkan aku didatangi kematian dengan tenang
karena aku tak ingin mengarungi gelombang yang ganas itu
bagiku, mencari kemuliaan itu sama dengan masuk ke dalam perut seekor naga.
Masih menyinggung tentang keadan mereka, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, " Sesuatu paling celaka yang menimpa seseorang ialah kalau ia lalai dari keutamaan-keutamaan agama, dari ilmu-ilmu yang bermanfaat dan dari amal-amal yang saleh. Orang seperti itu adalah termasuk orang-orang jembel yang suka membikin keruh air dan membuat mahal tarip atau harga. Jika tetap hidup ia hidup dengan tidak terpuji, dan jika ia mati tanpa ada yang merasa kehilangan dirinya. Bahkan semua orang akan merasa senang atas kematiannya. Langit tidak menangisinya, dan sekawanan burung puyuh betina pun tidak merasa kesepian." (Miftahu Daris Sa'adah I/ 134)
Menerangkan tentang orang-orang yang terhalang dari ilmu, bashirah, hasrat, dan cita-cita, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan," Mereka itulah orang-orang yang disifati oleh firman Allah Ta'ala, Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun." (Q.S. Al Anfal ayat 22) Juga firman Allah Ta'ala,"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu) ( Q.S. Al Furqon ayat 44) Atau oleh firman Allah Ta'ala," Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan." (Q.S. Ar Rum ayat 52) dan oleh Firman Allah Ta'ala," Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang ada di dalam kubur dapat mendengar."( Q.S. Fathir ayat 22)
Buku Karya Muhammad Ahmad Ismail dengan judul Asli Uluwwul Himmah; 597 halaman.
Kunjungi kami juga di ;
- http://alifaqiqahsyari.blogspot.co.id/ melayani pemesanan Paket Aqiqah sesuai syariah
- http://fungiku.blogspot.co.id/ melayani penjualan produk alat-alat laboratorium PT. Miconos Transdata Nusantara
- http://hammamkoleksibajustylish.blogspot.co.id/ melayani penjualan baju anak-anak bermerk.
- http://ecoqurban.blogspot.co.id/ melayani kebutuhan hewan qurban
Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon